Berkembangnya dunia hiburan pada saat ini memicu tampilnya penghibur tanpa kemampuan yang baik. Contohnya, dunia perfilman kita tetap kalah dengan film Hollywood atau Bollywood. Kenapa? Salah satunya ‘MODAL’ berupa biaya produksi dan artis yang tidak memiliki kemampuan akting (hanya cakep dan populer). Sayangnya, masyarakat kita tidak kritis dalam memanfaatkan uangnya untuk menonton. Pengusaha film kitapun kurang kuat dalam berkonsep.
Parahnya, para pengusaha perfilman kita pun menganggap sah saja dengan menyajikan tontonan ala kadar (dengan artis instan, minim artis berkarakter) yang penting uang berputar...
Coba kita lihat artis India. Mereka punya kemampuan akting – menari – menyanyi, bahkan belajar bela diri. Bekalnya sebagai artis sangat lengkap. Sehingga film dan namanya bisa menembus pasar dunia. Begitupun film Cina yang mengeksplore bela diri sebagai identitas film produksi mereka. Mereka punya artis yang tidak kacangan. Lalu kapan kita bisa menembus pasar dunia, jika kita puas dengan yang hanya sekedarnya? Bagaimana perfilman kita bisa berjaya di dunia internasional? Setidaknya, bagaimana kita mampu bersaing di era globalisasi ini di negri sendiri?
Disamping perfilman, dunia pertunjukkan tari kita dipenuhi orang yang asal ‘berani’ goyang. Klub-klub malam diserbu, karena menampilkan penari seronok (yg gak tau bedanya sexy dan murahan). Kenapa? Karena penari yang memiliki skill sulit ditemui. Akhirnya, kita cukup boleh puas menyaksikan beragam hiburan tanpa mendapat hiburan dari penampil yang punya kemampuan baik.
Persepsi menjadi ‘choreographer’ pun, jadi sama dengan ‘penata gerak’. Semua orang mengklaim dirinya dengan mudah sebagai “choreographer” tanpa pernah mengalami pendidikan yang benar, tanpa tau bedanya jobdesk seorang choreographer dan penata gerak. Sehingga banyak penata gerak (secara otodidak) berani menggarap acara (choreographer adalah orang yang mampu dan mengetahui seluruh seluk beluk konsep panggung – lighting – sound – teknik gerakan – teknik akting – sistematis kerja tim - dll. Sedangkan penata gerak hanyalah mengajarkan gerakan). Kesalahan persepsi dalam membedakan choreographer dengan penata gerak inilah yang menyebabkan hiburan bisa tidak sukses (dalam arti sesungguhnya). Malah ada berani menyatakan dirinya sebagai show director, namun membuat rundown (misalnya rundown broadcast) pun tak mampu. Nelangsa sekali dunia pertunjukkan kita.
Jika memang kita suka yang ala kadarnya, buat apa kita belajar banyak? Yuk, ramai-ramai menjadi instan lalu ‘hilang dalam waktu sesaat’, tanpa pernah memiliki/ mengetahui mutu yang baik dan tanpa tau pendidikan apapun. Kalau sudah begini, sia-sia usaha para pakar seni kita untuk memajukan hiburan yang bermutu di tanah air
Selasa, 05 Agustus 2008
Kasus Ryan gak perlu dibicarakan terus
Weksz, semakin hari kita makin dipermainkan oleh para pedagang kelas kakap. Misalnya masalah kriminal yang semakin banyak jadi berita utama, dengan cara pemberitaan yang (katanya) lugas dan terperinci.
Jika dipikir, siapa sih yang menciptakan monster-monster berdarah dingin, membuat orang bisa dengan mudah melakukan tindak kejahatan, atau siapa sih yang membuat Ryan hingga berbuat kejam? Lingkungan.
Kita tau bahwa semua bayi terlahir polos, bagaikan selembar kertas putih yang tak ternoda dan sama sekali tidak tau kejahatan. Namun berkembangnya seseorang menjadi 'keras' adalah karena ‘tinta yang ditulis’ oleh lingkungan. Sehingga terciptalah orang-orang yang kita sebut 'penjahat'. (Tindakan Ryan memang salah, namun jangan sampai Ryan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan tindakan serupa)
Dalam hal ini, alangkah lebih baik, jika pers lebih berhati-hati dalam penyajian berita. Informasi apapun memang akan disantap nikmat oleh masyarakat, namun janganlah fenomena tersebut menjadi sasaran empuk buat pengusaha dan insan media untuk mencari uang, tanpa selektif memuat kalimat atau gambar, karena berita yang memuat "hal-hal kriminal bisa menjadi inspirasi bagi orang berjiwa lemah untuk berbuat jahat".
Perlu disadari penyimpangan ‘Demokrasi Pers’ pada saat sekarang semakin sering mengeksplore berita tanpa memikirkan dampak negatifnya, termasuk program infotainment yang aktif membuka aib orang, maupun program-program yang ‘menghasut’. Bukankah ini dapat mengajarkan dan memicu anak-anak untuk terbiasa ‘keras – jahat – membicarakan aib’
Yuk, kita sama-sama menyadari bahwa informasi pers perlu diperhatikan dengan baik, karena pers merupakan salah satu ujung tombak pendidikan bangsa yang dapat memberi dampak positif maupun negatif. Berita kriminal maupun infotainment akan lebih baik hasilnya, jika dikemas dengan penyajian yang ‘halus’ dan tidak ‘kasar’.
Mari kita mendidik bangsa dengan tulus
Jika dipikir, siapa sih yang menciptakan monster-monster berdarah dingin, membuat orang bisa dengan mudah melakukan tindak kejahatan, atau siapa sih yang membuat Ryan hingga berbuat kejam? Lingkungan.
Kita tau bahwa semua bayi terlahir polos, bagaikan selembar kertas putih yang tak ternoda dan sama sekali tidak tau kejahatan. Namun berkembangnya seseorang menjadi 'keras' adalah karena ‘tinta yang ditulis’ oleh lingkungan. Sehingga terciptalah orang-orang yang kita sebut 'penjahat'. (Tindakan Ryan memang salah, namun jangan sampai Ryan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan tindakan serupa)
Dalam hal ini, alangkah lebih baik, jika pers lebih berhati-hati dalam penyajian berita. Informasi apapun memang akan disantap nikmat oleh masyarakat, namun janganlah fenomena tersebut menjadi sasaran empuk buat pengusaha dan insan media untuk mencari uang, tanpa selektif memuat kalimat atau gambar, karena berita yang memuat "hal-hal kriminal bisa menjadi inspirasi bagi orang berjiwa lemah untuk berbuat jahat".
Perlu disadari penyimpangan ‘Demokrasi Pers’ pada saat sekarang semakin sering mengeksplore berita tanpa memikirkan dampak negatifnya, termasuk program infotainment yang aktif membuka aib orang, maupun program-program yang ‘menghasut’. Bukankah ini dapat mengajarkan dan memicu anak-anak untuk terbiasa ‘keras – jahat – membicarakan aib’
Yuk, kita sama-sama menyadari bahwa informasi pers perlu diperhatikan dengan baik, karena pers merupakan salah satu ujung tombak pendidikan bangsa yang dapat memberi dampak positif maupun negatif. Berita kriminal maupun infotainment akan lebih baik hasilnya, jika dikemas dengan penyajian yang ‘halus’ dan tidak ‘kasar’.
Mari kita mendidik bangsa dengan tulus
Pedagang mengecoh bangsa kita secara turun temurun
Membicarakan “semakin hari kita makin dipermainkan oleh para pedagang kelas kakap”, banyak hal yang bisa menjadi contoh. Diantaranya yang dilakukan pertama kali oleh para pedagang Amerika yang menciptakan hiasan natal dengan ‘salju’ (disesuaikan dengan kondisi alam Amerika pada saat natal). Selanjutnya memanfaatkan agama sebagai ‘penghasilan’ pribadi terus berkembang di seluruh dunia dan dianggap sah.
Jika ditelaah pada saat kelahiran Yesus Kristus atau Isa Almasih, di tempat kelahirannya jelas tidak ada salju. Namun para pedagang kelas kakap itu mampu merobah pandangan ‘dunia’ dan mempopulerkan hal tersebut sehingga secara turun temurun kita terkecoh. Alangkah lebih baik, jika hiasan natal atau yang berkaitan dengan agama memang diciptakan untuk lebih mendidik (tentang kelahirannya), dengan cara hanya menciptakan produk yang sesuai keadaan asli (sejarah) nya.
(Atau jika kita mau meng-improvisasikan hiasan, kenapa kita mesti berkiblat pada negara lain? Kenapa tidak mengembangkan ide sendiri atau keadaan tanah air sendiri?)
Lalu berhati-hatilah dengan program berbunyi ‘diskon’ atau ‘beli ini berhadiah itu’ yang sering membuat masyarakat semangat (kalap) berbelanja. Sejujurnya, hal itu bukanlah sebenar-benarnya diskon, namun hanya ‘pura-puranya’ diskon, karena dalam memproduksi sesuatu ada yang namanya ‘harga pokok penjualan’, dimana penjual tidak akan pernah menjual produknya di bawah biaya produksinya. Umumnya, pedagang meng-kalikan nilai produk minimal 2 kali harga pokok (bahkan lebih), baru didiskon sedikit.
Semoga masyarakat semakin pintar mensiasati keinginannya berbelanja dan hanya membeli hal-hal yang sangat diperlukan, terutama dalam membeli produk yang mendidik anak-anak
Jika ditelaah pada saat kelahiran Yesus Kristus atau Isa Almasih, di tempat kelahirannya jelas tidak ada salju. Namun para pedagang kelas kakap itu mampu merobah pandangan ‘dunia’ dan mempopulerkan hal tersebut sehingga secara turun temurun kita terkecoh. Alangkah lebih baik, jika hiasan natal atau yang berkaitan dengan agama memang diciptakan untuk lebih mendidik (tentang kelahirannya), dengan cara hanya menciptakan produk yang sesuai keadaan asli (sejarah) nya.
(Atau jika kita mau meng-improvisasikan hiasan, kenapa kita mesti berkiblat pada negara lain? Kenapa tidak mengembangkan ide sendiri atau keadaan tanah air sendiri?)
Lalu berhati-hatilah dengan program berbunyi ‘diskon’ atau ‘beli ini berhadiah itu’ yang sering membuat masyarakat semangat (kalap) berbelanja. Sejujurnya, hal itu bukanlah sebenar-benarnya diskon, namun hanya ‘pura-puranya’ diskon, karena dalam memproduksi sesuatu ada yang namanya ‘harga pokok penjualan’, dimana penjual tidak akan pernah menjual produknya di bawah biaya produksinya. Umumnya, pedagang meng-kalikan nilai produk minimal 2 kali harga pokok (bahkan lebih), baru didiskon sedikit.
Semoga masyarakat semakin pintar mensiasati keinginannya berbelanja dan hanya membeli hal-hal yang sangat diperlukan, terutama dalam membeli produk yang mendidik anak-anak
Minggu, 03 Agustus 2008
Choreography Team ‘Emir’















Choreography Team ‘Emir’
Berangkat dari pengalaman menangani berbagai aktivitas panggung yang bermula sebagai pemain teater dan penari, ditingkatkan dengan pendidikan non formal di bidang modeling dan seni tari, maka Emir Ishvara Izak membentuk tim koreografi pada tahun 2005 yang dinamakan EMIR CHOREOGRAPHER TEAM
Tim koreografi Emir telah menggarap berbagai acara berskala nasional. Diantaranya:
* Gading Nite Carnival – Jakarta Fashion and Food Festival 2010
* Gading Nite Carnival – Jakarta Fashion and Food Festival 2009
* Putri Pariwisata (Miss Tourism) Indonesia II - 2009
* Putri Pariwisata (Miss Tourism) Indonesia I - 2008
* Duta Wisata Indonesia IV (Nasional) – 2009
* Duta Wisata Indonesia III (Nasional) – 2008
* Duta Wisata Indonesia II (Nasional) – 2007
* Duta Wisata Indonesia I (Nasional) – 2006
* HUT Atrium Plaza Jakarta (Fashion) 2008
* Remaja Ceria Indonesia dari level kotamadya - propinsi - nasional (2005 - 2009)
* EMIR YOUNG MODEL AWARD 2007 kompetisi model se Jawa - Sumatra di Kota Bogor
* Puspita Martha International Beauty School member of Martha Tilaar Group,
* Pemilihan Model Indonesia bersama Brillian Management di 5 kota seperti Jakarta – Bandung – Jogjakarta – Surabaya – Bali (termasuk menjalin kerjasama dengan pihak gedung/ plaza – sponsor – pengisi acara – juri - radio dan media cetak setempat maupun nasional),
* Garuda Indonesia Family Gathering,
* Launching Sarinah di Pangrango Plaza Bogor,
* serta job dari beberapa event organizer, termasuk job menangani model untuk iklan tv dan layar lebar.
Contact person: EMIR ISHVARA IZAK, emirishvaraizak@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)